REFLEKSI FILM

WILLYBRORDUS TUALAKA ( ASPIRAN )

               

Film yang saya nonton  saya melihat bahwa  pelatih bola basket itu mengendarai mobil dalam keadaan mabuk sehingga Ia menabrak mobil polisi. Sebagai hukuman, Ia disuruh polisi untuk melatih orang-orang yang berkelainan. Dengan pasrah pelatih itu menerima semuanya karena Ia merasa bahwa Ia salah. Dari film ini saya merefleksikan bahwa, dalam kehidupan saya pasti saja banyak hambatan. Apalagi sekarang saya adalah seorang calon misionaris Claretian pasti saja tantangannya lebih berat lagi dalam menjawapi panggilan tuhan. Seperti pada film yang sudah saya nonton, saya merenungkan dalam pribadi saya, pelatih basket itu kayaknya Ia hanya sabar menghadapi orang-orang yang Ia latih. Seperti dalam kehidupan saya sehari-hari di Biara saya bersama teman-teman datang dari tempat yang berbeda, budaya yang berbeda, bahasa yang berbeda, dan sikap yang berbeda dan para formator juga lumayan pusing mengurus kami karena tingkah laku kami sudah pasti berbeda. Pada film yang sudah saya nonton juga saya melihat bahwa hidup saya di Biara itu seperti orang-orang itu. Dari itu saya merefleksikan bahwa bagaimana saya dibentuk di dalam komunitas ini agar saya bisa menjawapi panggilan Tuhan dengan sungguh-sungguh.

Saya di komunitas ini juga saya dibentuk dari keburukan saya, karena sebelum saya masuk di dalam komunitas ini hidup saya penuh dengan kekacauan. Saya membuat segalah sesuatu pasti bebas, tapi setelah saya masuk di dalam komunitas ini, saya mulai dibentuk, hidup diatur oleh waktu, bagaimana saya bisa hidup secara mandiri dan masih banyak hal. Dari itulah saya harus mensyukuri panggilan saya, karena tidak semua orang yang mau mengorbankan keluarganya untuk mengikuti jalan hidup sperti ini.

Komentar

Posting Komentar