Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2021
  REFLEKSI SINGKAT             Bahagia adalah kata yang sudah sering kita dengar setiap hari. Kadang terbesit keyakinan bahwa menjadi bahagia berarti merasa senang, happy, di setiap waktu. Tetapi apakah kesenangan selalu berakhir kebahagiaan? Hadiah memang bisa membuat hati berbunga-bunga, tetapi akan segera kita lupakan. Uang yang sering membuat kita senang-pun tidak bisa membeli kebahagiaan. Bahkan orang berkata,    “ semakin kamu memiliki banyak, kamu semakin kekurangan”. Kebahagiaan bukanlah sebuah titik akhir yang harus dicapai, karena orang tidak akan pernah   tau apakah Ia sudah sampai pada kebahagiaan atau belum. Kebahagiaan juga tidak ditentukan oleh beberapa banyak kesenangan yang diperoleh, melainkan oleh makna hidup yang mendalam.   “orang menjadi bahagia itu ketika Ia bersyukur atas apa yang Ia perjuangkan, karena Ia mengerti bahwa perjuangannya berarti”.
MANUSIA MEMBUTUHKAN ORANG LAIN Manusia membutuhkan orang lain. Salah satu hakikat manusia adalah sebagai makhluk sosial atau makhluk masyarakat. Menjalin persahabatan dan memeliharanya agar tetap langgeng merupakan tantangan. Tuhan Yesus membimbing ahli Taurat tersebut sampai kemudian ia menja- wab pertanyaannya sendiri: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya”. Jawaban yang diberikan ahli Taurat kepada Tuhan Yesus ini sangat penting. Sebab itu diharapkan agar jawaban Tuhan Yesus tersebut juga akan menuntun orang Kristen dalam praktik hidup yang bersahabat dalam masyarakat yang pluralis di bangsa ini. Pertanyaan Ahli Taurat kepada Tuhan Yesus di atas membawa kepada pertanyaan: "siapakah sesamaku manusia" di bumi Indonesia sekarang ini? Dengan tujuan untuk memberikan sebuah eksposisi terhadap pemahaman (konsep) “siapakah sesamaku manusia" sehingga menjadi kontribusi membangun hubungan persahabatan yang konstruktif dan membebaskan semu...