TUGAS KITAB SUCI

Willy Tualaka

 

Nama Nabi: Yunus Bin Amitai

Latar belekang:

Tuhan melihat kejahatan yang besar di sebuah kota besar yang bernama nniniwe, dan Tuhan ingin mengutus seorang Nabi untuk mendatangi kota tersebut. Nabi Yunus hanaya menisahkan satu peristiwa, sekaligus memberi kesempatan amat baik untuk mengenal pribadi Yunus. Allah menempa Yunus dengan sabar. Ia menunggu saat yang tepat, tanpa melepaskan rencana semula untuk menyelamatkan kota Niniwe dari kehancuran.

Melalui hakikat nabi Yunus ini, orang dapat menemukan pola dalam menyikapi maupun menghindari hal-hal yang penting namun tidak disukai. Betapa sering terjadi bahwa suara hati mengingatkan atau mendorong kita untuk melakukan sesuatu, namun kita tidak menggubris dan memilih berjalan kea rah yang berlawanan. Mungkin kita mempunyai pengalaman serupa dengan pengalaman Yunus. Dengan membaca risalah ini, kita dapat melihat dan menelusuri lagi pengalaman-pengalaman itu dan menibah hikmah dari padanya bagi masa mendatang.

Nubuat :

              Tuhan memilih nabi Yunus dan berfirman kepadanya “bangunlah, pergilah ke niniwe kota besar itu, berseruhlah kepada mereka karena kejahatannya telah sampai kepada-KU”. Kali ini yunus berangkat ke niniwe dan mengumumkan firman Tuhan dengan takut dan gemetar: “Empat puluh hari lagi niniwe akan dihancurkan.” Kemudiaan ia lari meninggalkan kota itu. Hal itu berarti bagi kita: lakukan apa yang pada saat ini dapat kau lakukan sesuai bakat dan kemampuanmu. Biarpun hanya sedikit, itu sudah merupakan langkah nyata menuju terpenuhinya tugas secara lengkap. Sedikit apapun yang kita lakukan pada saat itu, bagi Tuhan itu sudah merupakan sesuatu yang banyak, dan kita tak tahu bagaimana kemudiaan hal itu akan di tumbuhkembangkan oleh cinta dan kuasa ilahi. Seruan Yunus begitu pendek, namun mengakibatkan petobatan bagi seluruh penduduk kota. Suatu pertobatan yang tak terbayangkan sebelumnya, terlebih oleh Yunus sendiri. Bertobat berarti berbalik dari jalan yang menyesatkan kepada Tuhan yang menghidupkan.

               Kita sudah biasa melangkah dijalan yang lama. Makin panjang jarak yang kita tempuh, makin kuatlah untuk melanjutkan pola hidup, sikap dan reaksi menurut pola lama kita. Seakan jarak yang terlewati itu menguasai diri kita. Sulit benar untuk mengubah haluan.  Nabi Yeremia mengungkapkan: “dapatkah orang hitam berganti kulit menjadi putih, atau harimau mengubah belangnya? Masakan kamu dapat mengubah dirimu, hai orang-orang yang telah biasa bebuat jahat?” (Yer  13:23). Bila kita mawas diri, kita menemukan berbagai pengalaman yang menyedihkan dan amat sulitlah meninggalkan suatu kebiasaan. Niat baik tidak banyak menolong. Dengan demikian, jumlah manusia yang bertobat secara mendalampun kian sedikit. Biarpun demikian, salah satu tema pokok dalam kitab suci adalah pertobatan. Imanlah kekuatan besar agar kita berhasil bertobat.

Refleksi teologis:

Dari pandangan kami tentang kisah hidup Yunus Bin Amitai, sikap egois sangat di tunjukan olehnya  Melalui sikapnya dalam menanggapi utusan dari Tuhan. Sebelum diangkatnya menjadi Nabi, Yunus Bin Amitai masih membawa dirinya sebagai manusia biasa dan beranggapan bahwa Ia tidak sanggup untuk melaksanakan perintah dari Tuhan. Dari kisah pelarian Yunus Bin Amitai ke tarsis, menunjukan bahwa kita tidak akan bisa lari dari Tuhan karena Tuhan akan melakukan cara-NYA sendiri agar kita kembali dan tunduk kepada perintah-NYA. Dengan membaca dan memahami kisah Yunus Bin Amitai ini kami yakin bahwa Tuhan tidak akan memberikan tugas yang berat diluar kemampuan kami. Meski terasa berat, Tuhan akan membekali kkami dengan kekuatan untuk melewati hal tersebut.

Komentar